Upaya memperbaiki kualitas udara di Indonesia dinilai tidak lagi bisa dikerjakan satu daerah atau satu lembaga saja. Pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha menilai koordinasi lintas wilayah menjadi syarat agar hasil riset berujung pada aksi nyata.
Profesor Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Puji Lestari, menilai kebijakan nasional dan daerah perlu berbasis data ilmiah yang kuat. Pengukuran kualitas udara yang akurat disebut menjadi fondasi untuk menentukan langkah intervensi yang tepat.
“Data itu menjadi basic science yang bisa menjadi dasar untuk pengambil kebijakan,” ujarnya dalam sesi diskusi Clean Air for Greater Jakarta: From Evidence to Investment and Action, di Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026, Jakarta, Rabu (7/10).